The pen is the tongue of my mind. -Miguel de Cervantes
Wednesday, March 23, 2011
Jingga untuk Merah - EIGHT
Thursday, February 17, 2011
Jingga untuk Merah - SEVEN
Monday, January 17, 2011
This is "Jingga untuk Merah", not "Jingga pada Biru" anymore - SIX
Sunday, December 26, 2010
lets think
Wednesday, November 10, 2010
Jingga pada Biru - FIVE
Sunday, August 22, 2010
23.05 Tue 2010 Jul 20
00.09 Tue 2010 Jun 22
unknown
Sunday, August 15, 2010
prolog
Aku pikir aku sudah tidak punya waktu lagi. Ya, waktu yang cukup untuk lari dari semua ini. Aku tahu, lari tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi setidaknya, aku bisa menenangkan diriku dulu untuk menerima semua ini. Ini bukan salah papa atau mama. Tapi salah aku, ya, salah aku yang hidup di dunia ini dan... Ah, aku memang bodoh. Mau saja aku menerima semua ini saat aku belum benar-benar tahu yang benar.
Bila ada orang lain yang mencariku selain Arya atau Riyan, aku tidak akan menerima orang itu di sini. Aku hanya butuh mereka, setidaknya untuk saat ini. Hanya mereka yang tahu dan mengerti dan benar-benar paham atas semua yang menimpaku.
“Jadi, kamu udah tahu mau apa sekarang, Ga?” tanya Arya memandangku. Tatapannya tidak pernah seserius dan seseram ini. Biasanya tatapannya teduh seperti pohon pinus di pegunungan, sekarang ia membuatku takut.
Aku menggeleng.
“Sampai kapan kamu mau di sini, Len?” sekarang Riyan yang akan mengintimidasiku.
Aku mengangkat bahu, menandakan aku tidak tahu. Memang aku tidak tahu sampai kapan aku akan di sini. Aku tidak mengerti apa mau mereka. Mereka tahu kan aku di sini bukan untuk lari. Maksudnya, bukan lari dalam arti yang sebenarnya. Aku hanya ingin mengontrol emosiku, setidaknya agar aku tenang dan siap atas semuanya. Ya, aku juga berharap orang-orang yang memaksaku bisa, mengubah keputusannya. Apa mereka masih tidak mengerti juga?
“Berhenti ngomong pake bahasa tubuh, Ga. Kamu punya mulut, kamu punya suara, kamu juga masih bisa menggerakkan bibir kamu. Kenapa nggak jawab pake suara aja sih, Ga? Aku masih nggak ngerti deh sama kamu.” Arya benar-benar membuatku bergidik. Ia tahu aku takut dengan orang marah, apalagi bila aku harus menahan emosi agar ia tidak bertambah marah kepadaku.
“Ya, udah, jangan marah-marahin Jingga terus dong. Lo tahu kan, dia takut sama orang marah?” Riyan membelaku, membuat aku tersenyum menang.
“Aduh, Yan. Kalo lo belain dia terus, dia nggak bakal berubah. Sampai kapan sih lo mau ngebiarinin dia kayak orang lumpuh gini? Dia kan punya kehidupan yang masih panjang, dia musti nikmatin semua itu, bukan diem kayak gini!”
Kata-kata Arya benar. Aku hidup bukan untuk seperti ini kan? Aku kan hidup untuk menjadi aku dan untuk bahagia. Bukannya malah seperti ini. Seperti orang lumpuh. Hanya di rumah petak pinggiran Jakarta, tidak mau bertemu dengan siapa-siapa, kecuali mereka berdua. Tidak pernah keluar rumah. Rasanya hidupku yang masih normal itu dua tahun yang lalu. Wow, aku sudah dua tahun di rumah usang ini? Betah sekali aku.
“Sekarang tanggal berapa?” tanyaku pada mereka berdua yang masih memperdebatkan aku sedari tadi. Dan kelihatannya ini suara pertamaku di rumah ini, semuanya terlihat lebih...berwarna.
Riyan dan Arya menengok ke arahku bingung. Dan Riyan, ia seperti mendengar anaknya yang berumur tiga tahun berbicara rumus fisika. Ia senang sesenang-senangnya dan langsung memelukku erat. Aku hampir tidak dapat bernafas.
“Riyan Suradriatmana! Aku..nggak..bisa...nafas....” suaraku terdengar segar, seperti baru keluar dari oven. Aku senang mendengar suaraku. Namun, pelukan Riyan terlalu kuat! Aku benar-benar akan asma walau aku tidak punya asma sih.
Riyan melepaskan pelukannya “Kamu inget nama panjang aku, Len! Kamu hebat!” Riyan memelukku lagi dan aku segera mendorongnya pelan agar cepat melepaskan pelukannya.
Aku langsung menghampiri Arya dan langsung memeluknya sangat erat “Aku sayang kamu!” entah mengapa kalimat itu yang keluar pertama dari mulutku saat dipelukkannya.
Arya tidak menjawab, ia hanya membalas pelukanku dan mengecup keningku.
Friday, July 02, 2010
ngomong vs nulis
nulis itu lebih sepi, nulis menyalurkan pikiran yg lewatlewat. kalo ngomong, gue suka ngomong hal2 yg kurang penting. karena kadang gue ngomong tanpa mikir, jadi aneh dah omongan gue.
dan kadang kalo lg kesel ama orang juga gitu, mending gue diemin aja daripada orangnya ngamuk gara2 gue salah ngomong dan orangnya tau sendiri dari baca blog gue. gue ga peduli deh dia mau ngomong apa setelah baca. gue emang lebih seneng bisu. waktu suara gue ilang itu sebenernya asli gue seneng banget, gue ga dapet masalah gara2 ngomong. entah kenapa tuh suara bisa balik lagi besoknya. ah. seandainya lebih lama kan asik.
gue emang orang yg tertutup. kalo di msn, ym, atau dimana sarana yg gue ngetik pake komp, gue bakal cerita apapun tanpa dikorek2. kalo di kenyataan atau smsan, gue jadi lebih nutup. hahaha gatau kenapa. emang gue aneh. ya, I'm a freak.
gini ya. inti dari tulisan gue :
kita ga pernah bisa dan ga akan pernah bisa jadi seseorang yg semua orang mau. maksudnya, kita ga bisa nyenengin semua orang menjadi diri kita. sebaik apapun kita, pasti ada juga yg sebel dan ga akan ngerti kenapa kita kayak gini. karena gue pribadi pun, buat punya temen yg banyak dan macem2. gue juga menjadi orang yg beragam. gue ga bisa jadi si A di tempat di B? dan gue ga bisa jadi si C di tempat si A atau gimanapun. gue adalah gue di tempatnya. God, gue kayak punya banyak kepribadian. yaa, ga sepenuhnya beda banget sih, kalo beda banget gue gila dong? hahaha
ya mungkin di tempat si A gue lebih diem, di tempat si B gue lebih banyak ngomong hal2 yg ga jelas, di tempat si C gue jadi orang yg dewasa banget.
ya itu semua ada di diri gue, tapi dalam penempatan yg berbeda2. atau mungkin lo juga seperti itu?
tapi kadang nulis juga ga kayak ngiket tali sepatu, kalo lo tau caranya, lo langsung bisa mengerjakannya dan menyelesaikannya. nulis butuh pikiran yg fresh dan berbobot, dan makanya itu lebih banyak orang nulis tentang kehidupannya sehari2. kenapa? karena pasti jadinya lebih gampang karena dia merasakan itu sendiri.
menjadi seorang penulis seperti berkhayal kita punya kehidupan lain. and guess what, jadi penulis bisa bikin lo kayak TUHAN. lo yang bikin kehidupannya, lo yg bikin karakternya, lo yg bikin pertemuannya, lo yg bikin semua. Tapi ga semua bisa jadi penulis yang baik karena ga semua yang lo tulis disukai semua orang. seperti yg gue bilang : "kita gabisa nyenengin semua orang"
so, kayak apa tulisan lo?