The pen is the tongue of my mind. -Miguel de Cervantes
Showing posts with label nulis. Show all posts
Showing posts with label nulis. Show all posts

Wednesday, March 23, 2011

Jingga untuk Merah - EIGHT

Jingga = merah + kuning. Merah warna kesukaannya, dan aku menyukai mentari dan kuning sekaligus. Mungkin kami lebih cocok, Merah + Biru = Ungu. tapi Ungu masa lalu dari Merah, dan haruskah memasukannya ke dalam list? Tentu aku akan memasukannya ke dalam listku, dalam list hidupku, dan ia nomor satu dalam list itu. Hanya saja bukan list biasa, tetapi blacklist. Ya dalam kenyataan Merah + Biru = Ungu = Kehancuran = Ungu + Kuning. Ini rumit, lebih rumit dari membenarkan benang yang kusut. Jujur saja, bila menemukan benang kusut, yang aku lakukan adalah mengguntingnya. Memisahkan dari yang masih lurus, lalu aku mengguntingnya lagi hingga menjadi potongan kecil lalu mencoba melepasnya. Kau tau, itu sangat mudah untuk dilakukan, memutuskan sambungannya, namun apa kau bisa melepaskannya? Tentu saja tidak, pintar.

"Hello, Red, good afternoon. How was your day at campus? What shirt you wear today? What jeans you wear? How about your friend's comment about your new shoes? Who is wipe your sweat today? What you draw today? How about the traffic jam? What things you laughing at? Do you know I miss your funny faces? Do you know I miss that time I look just your eyes concentration to the road in the rearview mirror? Do you know I miss your voice? Do you know how much I miss your way to make me laugh? And your smile after that? I just miss you :("

RED. Warna yang berani menurutku sejak kecil. Saat aku sangat kecil aku sangat sering memakai baju berwarna merah yang aku lihat dari foto-fotoku. Mungkin waktu aku kecil aku lebih berani dan kuat dari sekarang. Namun, beranjaknya dewasa, aku tidak pernah melihat merah dalam hidupku. Bagiku merah terlalu berani, dan aku walau terlihat galak, aku bukan orang yang berani. Aku bahkan takut pada gedung yang tinggi, pada kucing, pada petir, pada malam, dan lainnya. Tapi kau tau, Red tidak pernah takut pada apapun, Red selalu memelukku saat aku takut, mengusir semua penggangguku. Ia menjagaku seperti ia menjaga adiknya dengan perlakuan yang lebih dari itu, ia sosok ayah dan kakak untukku, walau sosok ayah mungkin tidak bisa digantikan oleh siapapun juga, namun ia seperti layaknya itu, ada selalu disini. Menggenggam tanganku, membuat aku tertawa dengan ejekannya, menciumku dengan kasar tapi menyenangkan. He's the one, you know. No one kan change. Without exception.

Aku ingat saat ibuku mengatakan "Kamu bagus memakai baju warna-warna lembut, Ga"
Dan sejak saat itu aku menyukai semua warna kecuali kuning menyala, hitam gelap, dan merah. Warna-warna yang terlalu kuat, dan aku tidak pernah merasa kuat. Aku tau aku fragile, tetapi berusaha sok kuat. Aku introvert. Dan untungnya aku menemukan Red. Yang kuat dan berani, yang sekalipun tidak pernah menyakitiku. Kau tau betapa bahagianya memiliki pacar, orang yang menyayangimu, yang merupakan tipe idamanmu, yang diidamkan semua orang. Ya, aku menemukannya di Red.

Hari ini, ia tahu-tahu ada di depan rumahku, untuk menunjukkan gambar yang ia buat dan masuk dalam majalah kampusnya. Dan gambar itu untukku. "I'm Yours" kata gambar itu. Hanya beberapa menit saja bersamamu, aku tidak bisa berhenti tersenyum, namun aku sedih pula, karena kita berpisah begitu cepat. Kamu pergi menelusuri angin sore ini sendirian, aku berharap aku dapat menemanimu, mengurangi angkin dingin itu, tapi terimakasih, tampan. Aku mencintaimu. Sungguh. Aku tidak dapat mengekspresikannya dalam banyak tempat, tapi kau tau aku. Kamu mengerti aku. Dan bahkan kamu tau semua tentang diriku yang bahkan aku tidak tahu. Terimakasih untuk masih hadir di hidupku dan untuk selamanya atas janji kita. Jingga terbuat atas takdir yang menyatukan Kuning dan Merah. Mentari saat fajar dan tenggelam. Untuk apa lagi mencari yang lain, Red? Aku punya semua yang aku butuh dan inginkan pada dirimu. Dan Jingga untuk Merah selalu.

Satu merah
Merah NARA Senja
Ia hadir di dunia saat semuanya pergi
Saat yang lain menghabiskan waktunya di dalam tempat tertutup
tidak dapat menyaksikan betapa cantik dan teduhnya Senja
Kamu tahu aku benci hujan
Aku tidak suka basah
Dan kamu, Merah
Sang mentari itu
Dengan kuatnya menerangi dunia
Tidak pernah mengeluh ataupun lelah
Dan bahkan menciptakan keajaiban
Kamu tau, tidak ada yg lebih indah dari sunset di dunia ini
Dan tidak tahu bagaimana caranya kamu membuat sunset itu setiap detik dalam waktuku bersamamu
Terkadang, kamu bersinar terlalu terik dan membuatku berkeringat
Namun lalu kamu datang dengan lebih teduh
Menghapus keringatku dan letihku dan membuat semangat yang lain
Tidak pernahkah kamu tau, Red
Tak dapat sedetikpun aku berhenti memikirkanmu dan berhenti berharap kamu dapat berada di sisiku menggenggam tanganku
Air mataku tidak dapat berhenti mengalir
Tidak, Red. Aku tidak sedih
Aku senang, aku bahagia atas semua memori kita
Dan dapatkah kita mengubah "nothing last forever" menjadi "nothing impossible"?
Tentu saja bisa
Selama ada Jingga : Merah dan Kuning :)

Thursday, February 17, 2011

Jingga untuk Merah - SEVEN

Katanya aku gila karena telah mencintai dan dicintai orang seperti Red. Katanya sayang dan cinta itu lebih besar dalam sayang, tapi itu salah. Kita menyayangi orangtua kita karena mereka yg membuat kita menyayangi mereka, kita tentunya punya keinginan lain untuk mempunyai orangtua yang lebih dari apa yg kita miliki sekarang dan bisa kita cintai. Kita mencintai orang yang kita pilih, atau orang yang kita setujui untuk mencintai kita, maka kita bisa mencintai mereka. Dalam sayang, kita ga mungkin memiliki kata lust dalam hubungan itu. Cinta punya kata itu, sayangnya lust itu tidak boleh terlalu too much atau ga ada sama sekali. Cinta punya kata ingin memiliki selamanya, ingin menjaga, memelihara, melindungi, menyayangi pun ada dalam cinta. Karena itu semuanya berbeda, dan tentu saja cinta lebih besar dari sekedar sayang.

"Red, hari ini kemana?" tanyaku padanya yang berada di kampusnya dan aku di kampusku lewat messenger.
"Ketemu kamu, Ga."
"Haa? Katanya kamu mau langsung pulang, banyak tugas"
"Ya kan ketemu kamu sebentar gapapa sekalian cari inspirasi hehe biar kamu ga capek juga"

Redddd, why you always so Red?! Why you always makes my chick be so Red?! my God!

"Aku ga capek kok, masa pulang dari kampus aja capek? haha ga lah"
"Aku ga punya apa2, Ga, buat senengin kamu, aku tetep bikin kamu kepanasan, capek jalan, aku juga ga bisa beliin kamu ini itu yang kamu mau, aku cuma bisa sayangin kamu terus dan senengin kamu terus gmnpun caranya"
"Red Red, kamu ga perlu kasih aku apapun, ga perlu punya apapun buat sama aku, asal kamu tetep sayang sama aku, aku bakal sayang kamu terus :D"

Dan Red pun tersenyum di sana, ia tahu aku tidak berbohong, walau aku sering sekali berbohobg padanya dulu, ya aku jahat memang, tapi aku tidaklagi sekarang. Entah mengapa ia tahu saat aku berbohong, entah kenapa ia bisa membuatku merasakan sakit juga bila aku menjadi ia, menjadi orang yang dibohongi itu sangat menyakitkan, maka itu aku tidak pernah lagi berbohong padanya apalagi ia? tidak pernah ia berbohong padaku

Aku sayang Red, walau sekarang ia memanggilku jeleek, dabo (datar, kebo), dabon (datar, kebo, bloon) aku tetap menyayanginyaa selaluuu dan akan menjadi selamanya. We promise to always together forever.

Hey guys, this is our life, our world, don't you understand when somebody in love they change to be crazy? Yes, I feel that way and also him. Please, try to be understand if you are in our side :D

Monday, January 17, 2011

This is "Jingga untuk Merah", not "Jingga pada Biru" anymore - SIX

Merah Nara Senja a.k.a Red yang sering aku panggil begitu hari ini berkata akan menjemputku di kampus. Padahal ia masih di kampus, menjalani aktivitas mahasiswa biasanya, mengerjakan tugas. Ia baik sekali, katanya ia akan menungguku sampai aku selesai ngampus, padahal jalan pulang ke rumahnya, tidak lewat rumahku, padahal jarak kampusnya dengan kampusku perlu jalan yang memutar, tapi aku tidak pernah dengar satu katapun darinya yang menyatakan ia mengeluh.

Buta, ya mungkin aku menjadi buta. Karena aku tidak suka dikekang, diatur, disuruh, dipaksa, atau apapun itu sejenisnya. Tapi dengan Red, semuanya berubah. Rasanya bila dengannya seperti tidak ada pilihan lain, bukannya terpaksa, namun itu memang pure mauku. Ia mengubah duniaku menjadi lebih baik, lebih hidup, lebih berwarna. Kau tau kenapa menjadi berwarna? Karena dia lebih gila dari perkiraanku. Dia bisa menjadi macan, dia bisa menjadi ikan koi kesayanganku, dan lainnya. Aku sayang dia.

Cerita tentang Red tidak akan pernah habis seprti dalam cerita, cerita tentangnya seperti buku yang terus dilanjutkan dan dilanjutkan tanpa happy ending atau bad ending.

Pernah suatu hari, aku berbohong padanya, mengingkari janji yang sudah kupegang dengannya. Dan ia marah, seperti pacar2 lainnya di dunia ini. Tapi, hal yang dia lakukan saat melihat aku di pintu rumahnya bukanlah memarahiku atau mengusirku, tapi memelukku dengan erat seperti sangat takut aku pergi. (Aku ga bakal pergi, Red. As like my promise) dan juga menciumku. :)

He always make me comfortable, make me feels like I very special, I need everything he do. But you know, what I gave to him, isn't balance with what he gave to me.

Ya, kayak jungkat jungkit aja. Gue selalu di atas, di selalu dibawah, dia yang mengontrolku melakukan segala hal, ia yang menyadarkanku bahwa aku tidak sendiri. Aku selalu punya ia untuk ku andalkan. Betapa mungkin aku menyudahi sayangku padanya? call me insane if I do that.

Red, dalam mimpiku kamu datang dan mewarnai pelangi busukku, kamu mewangikan ruang hati yang pengap karena tak punya udara. And you, it's my new life, my new step, my new sky, my new love. I love you

Sunday, December 26, 2010

lets think

Apa yang kita tahu dari dunia ini?
>>dunia itu bulat, seperti bola, karena ia selalu berputar?

Apa yang kita tau dari kehidupan?
>>berat, sulit, menyenangkan, walau akhirnya kita menjadi mati?

Apa yang kita lihat dari dunia?

Apa yang kita lihat dari kehidupan?


then, I will give my opinion to both of them


Setiap minggu jadi kewajiban gue buat ke gereja, kewajiban dan tanggung jawab, dan setiap minggu juga gue melihat dan mempelajari sesuatu dari semuanya. Bokap dan nyokap yang kalah sama anaknya yang masih 5 tahun lah, bapak yang sangat mempedulikan anaknya tapi tidak pada ibunya, but ada 1 hal yang ga pernah hilang setiap minggunya dan membuat gue ga pernah berenti mikir betapa kita musti bisa kayak dia.

Gini. Di gereja gue ada 2 lantai kan, atas dan bawah. Buat yang ga dapet tempat di bawah, atau merasa anaknya bakal ganggu di bawah, akan dibawa ke atas. Intinya di atas itu orang2 yang kurang punya semangat ke gereja, karena di sanalah berkumpul pendatang terlambat (kayak gue -.-), anak2 kecil yang berisik dan orangtuanya harus lari2 jagainnya, orang2 yg ga pernah bisa matiin bahkan silent hpnya sebentar aja untuk ke gereja, dan lainnya.

Karena kan yang duduk di bawah adalah orang2 yang dateng duluan ke gereja, jadi dapet tempat yang enak di bawah, bisa liat altar, orang yg mau bener2 khusyuk ke gereja, karena bisa berlutut, orang2 yang pengen liat romo dari deket, bukan dari tv kayak orang2 di atas.

Tapi ada 1 orang paling semangat kalau di atas. 1 orang. Namanya Andrean, anak sma yang dulu sama kayak gue (dia adek kelas gue dr smp), darimana gue tau namanya? Men, gue ga naksir dia, tapi dia itu kalau dibilang ga sama kayak anak2 seumurannya. Dia punya dunia sendiri. Mmm, ya seperti autis gitu lah, tapi dia tetep bisa berkomunikasi sama orang lain.

Di sekolah pun, guru2 pada bilang dia anak yang rajin, setiap istirahat dia ke perpustakaan dan belajar. Ya, hal yang ga pernah dilakuin sama anak2 sma lainnya. Di gereja pun dia juga rajin dan semangat. Setiap kita harus menjawab kata2 dari pastur, dia lah peneriak paling kenceng, setiap nyanyi, dia buka puji syukurnya dan nyanyi dengan lantang, saat doa, dia jadi yang paling kenceng dan cepet! haha

Ya, some people ngeliat dia dengan tatapan kalo dia annoying, but mayoritas ngeliat dia sambil ketawa, entah apa yang ada di pikiran mereka, mungkin di sangka lucu atau malah gila (?) who knows?

Dia ga pernah duduk di bawah sekalipun dia dateng cepet banget, dia duduk di tempat yang sama, barisan paling depan. Dan selalu mau punya jarak dari orang lain, jadi kiri dan kanannya selalu kosong. Saat salam damai, this is the best part.

Dia nyalamin semua orang! Seberapa banyak sih kita nyalamin orang? Ga bakal bisa lebihin dia, dia selalu ngitung siapa2 aja yg dia salamin, setiap baris setidaknya harus dapet salamnya. And he enjoy it. Semua orang semangat ngeliat dia semangat dan minta salaman sama dia, walau waktu salaman udah abis, tapi dia tetep salamin orang2 di baris yang belom dapet salaman dia haha

tapi, pernah gue liat, waktu dia lagi salamin orang2, ada sepasang suami istri, mereka lagi mengobrol setelah salam2an itu, dan Andrean dateng menghampiri mereka, sang suami menyambut terlebih dahulu, dan sang istri melipat tangannya di dada, Andrean meminta salam pada sang istri dengan mengulurkan tangannya, sampai sudah di senggol suaminya, sang istri tetap memejamkan mata, lalu Andrean pergi begitu saja dan menyalami orang lain, tidak membuat pusing orang yang tidak mau bersalaman dengannya. Dan setelah diperiksa ternyata sang istri meninggal dunia (loh?!) haha ga kok. Sang istri buka mata ga lama setelah Andrean pergi, suaminya nanya, tapi istrinya ngomong apaan tau, ga kedengeran.

Tapi, emang gitu ya caranya memperlakukan mereka yang 'beda'? gimana kalo seandainya saudara kita yang kayak gitu? Atau temen kita? Jangan underestimate orang lain, siapapun mereka itu punya kelebihan dan kekurangan masing2. Kata nyokap gue, si Andrean setiap hari sekolah, dia paginya sekolah biasa di sma gue itu, dan pulangnya dia sekolah lagi, sekolah luar biasa atau sekedar terapi gue ga tau dengan jelas, tapi yang jelas sekarang dia udah kelas 3 sma, ips. Katanya sih dia pinternya pelajaran yang punya nilai pasti. Kayak matematika, dan ga gitu bisa kalau pelajaran logika. Ga tau pasti juga.

Tapi yg jelas, dia bikin gue belajar sesuatu, bikin gue sadar kalau apa yang ga sempurna di kita bisa kita jadiin kelebihan. Liat aja sekarang reality show pencarian bakat di tv, kebanyakan pesertanya orang cacat dan mereka bisa. Ada sisi baik dan buruknya. Sisi baiknya, bikin orang2 cacat lainnya semangat buat menjadi lebih dan lebih, sisi buruknya, pendukung mereka cuma sekedar kasihan sama mereka. Is that right? Ya, kalau mau pada ga kasian sama mereka dan mereka menang karena belas kasihan orang lain, bikin aja acara pencarian bakat dari orang2 cacat, jd yg ikut orang2 cacat doang, jd bisa objektif.

Bilangnya sih mereka harus dikasih kesempatan, ya itu bener, tapi coba bikin angket kenapa pada milih mereka? Gue yakin mayoritas bilang 'soalnya dia cacat tapi dia bisa...' atau 'soalnya kasian dia udah cacat gitu tapi tetep...' Haruskah kita nilai orang dari apa yang mereka punya dan apa yang mereka ga punya? Ancur deh dunia lama2 kalo semua orang mikir gitu.

Come on, guys, jadi penerus bangsa yang baik, jadi generasi muda yang semangat, seperti kata guru2 kita waktu sd. Ciptain perbedaan, jadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Atau setidaknya, berguna buat keluarga dan orang2 sekitar kita. Itu udah lebih dari cukup buat semangatin semuanya.

Good luck, guys. Semoga kita ketemu 10 tahun lagi dan udah pada sukses yaa! :D

Wednesday, November 10, 2010

Jingga pada Biru - FIVE

Aku tidak pernah tau bahwa matahari sore tidak butuh langit biru, yang ia perlukan adalah langit merah menyala.Terang, agar ia bertambah manis bermandikan cahaya kemerahan di langit yang akan gelap. Aku tidak pernah menyangsikan karya Tuhan terindah ini, layaknya ia membuat semangat setiap paginya dan menutup semuanya dengan keindahan yang tidak pernah akan bisa digantikan dengan lainnya, bahkan malamnya, saat semua sudah hitam, sudah tidak lagi bermain dengan langit, Ia masih membuat keindahan dengan menaruh 'kunang-kunang' kecil bertaburan di langit hitam, ya bintang.

Bagiku, Biru. Ksatria Arya Biru sudah ditutup bukunya, masanya sudah habis, sudah expired. Hidupku harus benar-benar menjauh dari biru pemilik warna dominasi langit. Karena aku menemukan warna lain pemilik semesta ini, warna yang baru, warna yang bahkan tidak pernah lenyap dari aliran darahnya. Red- begitu kami memanggilnya. Ya, berindonesiakan merah. merah pemilik semesta baru dalam hidupku. Biru mungkin selalu mendominasi langit, tapi bukankah bumi ini berputar dan hanya mempunyai satu mentari dan satu langit?

Saat aku melihat mentari kuning dan langit biru, di belahan dunia bulat lainnya ada mentari jingga dengan langit merah menyala. Ya, merah menyala, karena merahnya selalu hangat, selalu indah, selalu ingin mendominasi Jingga. Dan aku ada di belahan dunia bulat lainnya itu sekarang.
Dan saat belahan dunia bulatku menjadi mentari kuning dan langit biru lain, aku sudah berada di belahan dunia bulat lainnya, dimana mentari jingga dan langit merah menyala bersatu.

Red- aku mengenalnya karena lagi-lagi satu kelas. Ah, seperti kata temanku, aku selalu mempunyai kisah di setiap kelas setiap tahun. Tidak harus selalu aku mencintainya dan dia mencintaiku, sometimes itu hanya menjadi cintaku bertepuk sebelah tangan atau sebaliknya, atau hanya menjadi cinta diam-diam yang aku tidak pernah akan tahu karena aku tidak diberitahu.

Red- merah menyalanya selalu hangat, karena tidak ada kata menyerah untuknya. Untuk menjadi yang terbaik, untuk memulai cintanya untukku, untuk membuatku mencintainya sedalam ini. Ah, Tuhan mengapa Engkau menenggelamkan aku dalam kecintaan yang mungkin terlalu cepat ini? Tapi aku tidak pernah menyesal, tepatnya tidak pernah mau menyesal untuk mencintainya sedalam ini, karena aku tidak pernah salah untuk mencintainya sedalam ini.

Red- tidak pernah ingin kalah, tidak pernah ingin menjadi yang terlupa. Ia nomor satu dan terbaik. He's a champion not a winner, the champion of my heart. But I still have one problem, aku masih lebih baik mengajari kambing untuk makan secara table manner daripada membicarakan tentang hubunganku dengannya. Aku mencoba, selalu mencoba, dan sekarang semuanya menjadi lebih baik. Walau tidak seperti kertas, tapi seperti mengetik pada keyboard. Sulit, mulutku bukan hanya terlem, namun juga terjahit! Aku selalu ingin mengirimkan pesan dengan kode yang benar, agar ia tidak pernah bersalah paham dengan perkatannku, agar ia menemukan kode yang pas pula untuk mengartikannya. Dan menjadi pesan yang sukses disampaikan.

Red- warnanya merah seperti darah yang mengalir dalam tubuhku setiap detiknya, untuk membuatku tetap hidup.

Red- aku tidak punya darah biru, tidak setitikpun, aku tidak perlu darah biru untuk tetap hidup, yang aku butuhkan darah merah, ya merah yang mengalir di tubuhku saat ini dan selamanya.

Red- aku mencintaimu seperti bagaimana langit merah menyala selalu menemani mentari jingga dalam pengantar kepergiannya untuk tidur. Mentari jingga memang tidur, tapi ia datang di belahan dunia bulatku yg lain, dan di sana, kamu juga ada untukku.

Red- aku tahu betapa sulitnya memahamiku yang tidak pernah menjadi apa yang kamu mau, aku tahu betapa besar cintamu, aku tahu betapa sakitnya saat aku mengecewakanmu, dan kamu tahu : aku selalu menangis setiap malam dalam diam karena kecewamu terhadapku.

Red- bahkan dalam mimpipun aku tidak pernah berani bermimpi untuk mendapatkanmu, untuk mencintaimu, karena kamu begitu merah.

Red- tidak mengecewakanmu adalah janji terbesarku, selama aku memegang itu aku tidak akan meninggalkanmu sedetikpun apalagi berhenti mencintaimu. Tidak akan pernah.

Red- bahkan kata-kataku tidak akan sanggup mengungkapkan semuanya, semua yg ada dalam diriku saat ini. Aku tidak mampu menjelaskannya, namun aku akan membuktikannya.

Bahwa Jingga menemukan warna lain pemilik semesta pengganti Biru yang telah expired. itu Merah. Merah Nara Senja. Ya, kamu. Selamanya.

Sunday, August 22, 2010

23.05 Tue 2010 Jul 20

Bahkan hujanpun tak mengerti mengapa aku masih saja diam
hujan tak dapat berbicara untuk bertanya
untuk apa menjawab pertanyaan dengan jawaban yang pasti
menangispun tak dapat legakanku
hujan tak mengerti mengapa aku selalu murung
aku tak lagi dapat mengepak sayap
sayappun aku tak punya
aku jatuh terpuruk
aku sedih tertiban langit
cinta menyakiti
menghancurkanku sejadi-jadinya
aku tak lagi punya kata-kata
mulutku tak ingin menyakitinya
walau hati amat ingin menyelamatkannya
dari segala kesakitan
hujan selamatkan ia dari tangisannya
hujan hanyutkan ia pada cinta yang lain
agar ia tak lagi mengingatku sebagai cintanya
karena tak mungkin aku akan bersamanya

00.09 Tue 2010 Jun 22

biarkan aku menangis dalam perih
melepaskan segala pendam
agar aku tidak meledak nantinya seperti kata lainnya
bukannya aku egois
justru aku mengalah untukmu
untuknya
untuk semua
aku ingin kamu bahagia dengan caramu
agar kebahagiaanmu dapat tertawa selamanya
aku pernah masuk ke hidupmu
bukan secara kasat mata
namun hanya lewat hatiku
aku melihatmu dengan hatiku
kamu tahu hati itu egois
ia menginginkan
walau tubuh tak ingin melakukan apapun
hanya bermimpi tanpa usaha
seperti berharap salju pada kemarau di Jakarta
hingga aku tahu
aku tidak dapat hanya bermimpi
aku seperti kesakitan yang memaksa untuk sembuh
aku ingin mati tapi tubuhku tak mampu
pikiran dan hatiku hanya menginginkan dirimu
tapi aku hanya berharap
hati dan pikiran membeku seketika
aku ingin biarkan kamu pergi
pergi dari hatiku
dan bahagia dengan siapapun yang membahagiakanmu
dan aku tahu itu bukan aku
sekalipun salju dapat turun pada kemarau di Jakarta
karena aku tak ingin
tak sanggup membiarkan hatiku tetap mencintaimu sepenuhnya
bahkan untuk menangis saja aku tetap tak mampu
jadi aku akan pergi dan menjadi sahabat terbaikmu. :)

unknown

heart beat so fast
eyes hold on tears to not coming down
my hands are shaking
i know you always feel that you're the worst thing for me
i felt that way too
that feeling already gone
but i feel that feeling tonight
when you give that flower
white flower to said you're sorry
don't you know that i already forgive you long long time ago
because i know
i has that upset too
sorry, but really
maybe we should let it go when we need it
because this destiny is not belong to me, right?

Sunday, August 15, 2010

prolog

Jadi, teman2ku. Gue lagi mau ikut lomba menulis novel roman dari gagas media, ga tau sih jadi apa ga, tapi ini prolog gue. dikomen ya! plissssss!!!

Aku pikir aku sudah tidak punya waktu lagi. Ya, waktu yang cukup untuk lari dari semua ini. Aku tahu, lari tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi setidaknya, aku bisa menenangkan diriku dulu untuk menerima semua ini. Ini bukan salah papa atau mama. Tapi salah aku, ya, salah aku yang hidup di dunia ini dan... Ah, aku memang bodoh. Mau saja aku menerima semua ini saat aku belum benar-benar tahu yang benar.

Bila ada orang lain yang mencariku selain Arya atau Riyan, aku tidak akan menerima orang itu di sini. Aku hanya butuh mereka, setidaknya untuk saat ini. Hanya mereka yang tahu dan mengerti dan benar-benar paham atas semua yang menimpaku.

“Jadi, kamu udah tahu mau apa sekarang, Ga?” tanya Arya memandangku. Tatapannya tidak pernah seserius dan seseram ini. Biasanya tatapannya teduh seperti pohon pinus di pegunungan, sekarang ia membuatku takut.

Aku menggeleng.

“Sampai kapan kamu mau di sini, Len?” sekarang Riyan yang akan mengintimidasiku.

Aku mengangkat bahu, menandakan aku tidak tahu. Memang aku tidak tahu sampai kapan aku akan di sini. Aku tidak mengerti apa mau mereka. Mereka tahu kan aku di sini bukan untuk lari. Maksudnya, bukan lari dalam arti yang sebenarnya. Aku hanya ingin mengontrol emosiku, setidaknya agar aku tenang dan siap atas semuanya. Ya, aku juga berharap orang-orang yang memaksaku bisa, mengubah keputusannya. Apa mereka masih tidak mengerti juga?

“Berhenti ngomong pake bahasa tubuh, Ga. Kamu punya mulut, kamu punya suara, kamu juga masih bisa menggerakkan bibir kamu. Kenapa nggak jawab pake suara aja sih, Ga? Aku masih nggak ngerti deh sama kamu.” Arya benar-benar membuatku bergidik. Ia tahu aku takut dengan orang marah, apalagi bila aku harus menahan emosi agar ia tidak bertambah marah kepadaku.

“Ya, udah, jangan marah-marahin Jingga terus dong. Lo tahu kan, dia takut sama orang marah?” Riyan membelaku, membuat aku tersenyum menang.

“Aduh, Yan. Kalo lo belain dia terus, dia nggak bakal berubah. Sampai kapan sih lo mau ngebiarinin dia kayak orang lumpuh gini? Dia kan punya kehidupan yang masih panjang, dia musti nikmatin semua itu, bukan diem kayak gini!”

Kata-kata Arya benar. Aku hidup bukan untuk seperti ini kan? Aku kan hidup untuk menjadi aku dan untuk bahagia. Bukannya malah seperti ini. Seperti orang lumpuh. Hanya di rumah petak pinggiran Jakarta, tidak mau bertemu dengan siapa-siapa, kecuali mereka berdua. Tidak pernah keluar rumah. Rasanya hidupku yang masih normal itu dua tahun yang lalu. Wow, aku sudah dua tahun di rumah usang ini? Betah sekali aku.

“Sekarang tanggal berapa?” tanyaku pada mereka berdua yang masih memperdebatkan aku sedari tadi. Dan kelihatannya ini suara pertamaku di rumah ini, semuanya terlihat lebih...berwarna.

Riyan dan Arya menengok ke arahku bingung. Dan Riyan, ia seperti mendengar anaknya yang berumur tiga tahun berbicara rumus fisika. Ia senang sesenang-senangnya dan langsung memelukku erat. Aku hampir tidak dapat bernafas.

“Riyan Suradriatmana! Aku..nggak..bisa...nafas....” suaraku terdengar segar, seperti baru keluar dari oven. Aku senang mendengar suaraku. Namun, pelukan Riyan terlalu kuat! Aku benar-benar akan asma walau aku tidak punya asma sih.

Riyan melepaskan pelukannya “Kamu inget nama panjang aku, Len! Kamu hebat!” Riyan memelukku lagi dan aku segera mendorongnya pelan agar cepat melepaskan pelukannya.

Aku langsung menghampiri Arya dan langsung memeluknya sangat erat “Aku sayang kamu!” entah mengapa kalimat itu yang keluar pertama dari mulutku saat dipelukkannya.

Arya tidak menjawab, ia hanya membalas pelukanku dan mengecup keningku.

Friday, July 02, 2010

ngomong vs nulis

ini yg menjadi alasan kenapa gue prefer nulis daripada ngomong.
nulis itu lebih sepi, nulis menyalurkan pikiran yg lewatlewat. kalo ngomong, gue suka ngomong hal2 yg kurang penting. karena kadang gue ngomong tanpa mikir, jadi aneh dah omongan gue.

dan kadang kalo lg kesel ama orang juga gitu, mending gue diemin aja daripada orangnya ngamuk gara2 gue salah ngomong dan orangnya tau sendiri dari baca blog gue. gue ga peduli deh dia mau ngomong apa setelah baca. gue emang lebih seneng bisu. waktu suara gue ilang itu sebenernya asli gue seneng banget, gue ga dapet masalah gara2 ngomong. entah kenapa tuh suara bisa balik lagi besoknya. ah. seandainya lebih lama kan asik.

gue emang orang yg tertutup. kalo di msn, ym, atau dimana sarana yg gue ngetik pake komp, gue bakal cerita apapun tanpa dikorek2. kalo di kenyataan atau smsan, gue jadi lebih nutup. hahaha gatau kenapa. emang gue aneh. ya, I'm a freak.

gini ya. inti dari tulisan gue :
kita ga pernah bisa dan ga akan pernah bisa jadi seseorang yg semua orang mau. maksudnya, kita ga bisa nyenengin semua orang menjadi diri kita. sebaik apapun kita, pasti ada juga yg sebel dan ga akan ngerti kenapa kita kayak gini. karena gue pribadi pun, buat punya temen yg banyak dan macem2. gue juga menjadi orang yg beragam. gue ga bisa jadi si A di tempat di B? dan gue ga bisa jadi si C di tempat si A atau gimanapun. gue adalah gue di tempatnya. God, gue kayak punya banyak kepribadian. yaa, ga sepenuhnya beda banget sih, kalo beda banget gue gila dong? hahaha
ya mungkin di tempat si A gue lebih diem, di tempat si B gue lebih banyak ngomong hal2 yg ga jelas, di tempat si C gue jadi orang yg dewasa banget.

ya itu semua ada di diri gue, tapi dalam penempatan yg berbeda2. atau mungkin lo juga seperti itu?

tapi kadang nulis juga ga kayak ngiket tali sepatu, kalo lo tau caranya, lo langsung bisa mengerjakannya dan menyelesaikannya. nulis butuh pikiran yg fresh dan berbobot, dan makanya itu lebih banyak orang nulis tentang kehidupannya sehari2. kenapa? karena pasti jadinya lebih gampang karena dia merasakan itu sendiri.
menjadi seorang penulis seperti berkhayal kita punya kehidupan lain. and guess what, jadi penulis bisa bikin lo kayak TUHAN. lo yang bikin kehidupannya, lo yg bikin karakternya, lo yg bikin pertemuannya, lo yg bikin semua. Tapi ga semua bisa jadi penulis yang baik karena ga semua yang lo tulis disukai semua orang. seperti yg gue bilang : "kita gabisa nyenengin semua orang"

so, kayak apa tulisan lo?